Connect with us

Uncategorized

Lion Air yang Jatuh Pernah Dipakai Layani Rute Manado-Cina

Published

on

LION Air JT610 yang jatuh dalam penerbangan dari Jakarta ke Pangkal Pinang, merupakan pesawat canggih dan tergolong baru. Pesawat ini adalah salah satu tipe terbaru yang dikeluarkan boeing, yakni Boeing 737 Max 8. Pesawat buatan Amerika Serikat yang baru dioperasikan Lion Air Agustus 2018 lalu ini, sudah melayani rute cukup jauh.

Salah satunya dipakai melayani rute Manado-Cina dan Denpasar ke Cina. Hal itu disampaikan President dan CEO Lion Air Group, Edward Sirait. Bahkan selain ke Cina, pesawat tersebut sudah pernah menempuh perjalanan ke Timur Tengah. “Pesawat ini sudah pernah digunakan ke Timur Tengah, kurang lebih 9 sampai 11 jam,” ungkap Edward, Senin (29/10/2018).

Menurut Edward, Lion Air saat ini memiliki 11 unit pesawat dengan tipe tersebut. Dan pesawat itu sudah menerima sertifikat dari Amerika, sertifikasi kementerian perhubungan dan sertifikat layak terbang.
Namun sebelum mengalami kecelakaan, JT610 yang mengangkut 178 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak, 2 bayi dan 2 pilot serta 5 FA itu, berhembus kabar sempat bermasalah.

Pilot pesawat naas itu, Bhavye Suneja sempat melaporkan masalah flight control pada ketinggian 1.700 kaki. Pilot kemudian meminta naik ketinggian.

“Pada jam 06.22 WIB, pilot menghubungi Jakarta Control dan menyampaikan permasalahan flight control saat terbang di ketinggian 1.700 feet, dan meminta naik ke ketinggian 5.000 feet. Jakarta Control mengizinkan pesawat naik ke 5.000 feet,” ungkap Wakil Ketua KNKT, Haryo Satmiko lewat keterangan tertulis.

Namun pada pukul 06.32 WIB, Jakarta Air Traffic Controller (Jakarta Control) kehilangan kontak dengan pesawat PK-LQP tersebut. Pesawat itu kemudian dipastikan jatuh di perairan Karawang. Pihak Basarnas menyatakan, kemungkinan terbakar sebelum jatuh, kecil peluangnya. Karena puing yang ditemukan di perairan Karawang tidak terlihat adanya bekas terbakar atau hangus. Pesawat hancur berkeping diduga akibat kerasnya tabrakan ketika menukik ke laut.

Sementara pihak Lion Air sendiri mengakui, sempat adanya laporan masalah teknis dengan pesawat JT610 sebelum terbang dan kemudian jatuh. Sebelum kejadian, JT610 bertolak dari Denpasar ke Jakarta. Dan berdasarkan informasi yang didapatkan dari situs flightradar24.com, pesawat ini bertolak pada pukul 22.21 Wita, padahal dijadwalkan take off pukul 19.30 Wita. Pesawat itu mendarat di Jakarta pada pukul 22.56 WIB.

“Pesawat ini terakhir terbang dari Denpasar menuju Cengkareng, dalam posisi dirilis untuk terbang. Memang ada ada laporan mengenai masalah teknis, dan masalah teknis ini sudah dikerjakan sesuai dengan prosedur maintenance yang dikeluarkan oleh pabrikan pesawat,” ungkap Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait dalam konferensi pers di bandara Soekarno Hatta, Senin (29/10).

Namun Edward mengatakan, kondisi pesawat dari Denpasar ke Jakarta dalam kondisi baik. Apabila ada masalah, lanjutnya, tidak mungkin pesawat itu diizinkan terbang. “Kalau dia rusak, tidak mungkin dirilis terbang dari Denpasar, iya. Cuma memang benda bergerak sebagaimana kita ketahui akan bisa mengalami gangguan setelah dia mendarat, hanya ketika dia mendarat adalah laporan dari awak pesawat itu langsung kita kerjakan itu yang kita lakukan,” ujar Edward. “Malam itu langsung dilakukan pemeriksaan dan perbaikan sesuai petunjuk pabrik pesawat,” lanjutnya.

Informasi dari Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono, jam terbang Boeing 737 MAX 8 itu belum terlalu tinggi. Dia menegaskan pesawat nahas itu bisa masuk kategori baru.
“Jam terbangnya masih sekitar 800 flight hours. Jadi masih relatif sangat baru, boleh dikatakan baru,” kata Soerjanto.

Disebut-sebut kecil peluang adanya korban hidup dalam insiden ini, meski tim Basarnas sendiri masih terus melakukan pencarian seluruh korban. Apabila terjadi sebuah kecelakaan fatal yang menghancurkan pesawat dan tidak ada korban yang selamat, hampir dipastikan penyebab kecelakaan tidak akan diketahui.

Penyebab yang paling mungkin, baru akan dapat diketahui setelah Tim Investigasi yang berwenang selesai melaksanakan tugas penyelidikannya. Setiap negara anggota ICAO (International Civil Aviation Organization) diwajibkan menunjuk sebuah institusi pemerintah untuk urusan investigasi penyebab terjadinya kecelakaan pesawat terbang. Di Amerika badan itu bernama NTSB (National Transportation Safety Board) dan di Indonesia dikenal dengan KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi). KNKT akan melakukan tugasnya antara lain mengumpulkan data awal (preliminary data) untuk kemudian mendalaminya dengan cross check terhadap hasil analisis Black Box dari pesawat yang mengalami kecelakaan. Ini akan memakan waktu yang cukup lama, dan sebelum KNKT mempublikasikan hasil investigasinya, maka tidak ada orang atau pihak manapun yang dapat dipercaya atau dijadikan rujukan dalam hal menyampaikan penyebab terjadinya kecelakaan. (ts/sbr/*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: