Connect with us

Opini

Spiritualitas ‘ke-Tona’as-an dan ‘ke-Nabi-an’ pada diri Ds. A.Z.R. Wenas

Menarik disimak tulisan Denni Pinontoan terkait spiritualitas ke-Tona’as-an dan ke-Nabi-an’ Pada Diri Ds. A.Z.R Wenas. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua untuk menjadi perenungan menghadapi tantangan global saat ini.  Berikut tulisannya:

PADA tahun 1959, di saat Minahasa sedang mengalami kekacauan akibat pergolakan Permesta,  Ketua Sinode GMIM waktu itu, Ds. A.Z.R. Wenas justru diminta oleh Presiden Soekarno untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Republik Indonesia. Namun Ds. Wenas tak langsung menerima permintaan itu. Dia menyerahkan keputusan tersebut dalam sidang sinode Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM). Sidang sinode GMIM yang dilaksanakan pada 26-30 Oktober 1959 memutuskan,  bahwa Ds. Wenas harus melanjutkan tanggungjawabnya sebagai Ketua Sinode GMIM Ds. Wenas pun tunduk pada putusan sidang sinode itu dan sudah tentu pada komitmennya sendiri selaku pelayan gereja untuk lebih memilih jabatan itu daripada jabatan politik sebagai anggota DPA.
Hal yang menarik dan mestinya menjadi teladan GMIM sekarang ini, adalah sikapnya terhadap pemerintah pusat terkait tindakan yang mereka ambil terhadap masyarakat Minahasa dalam menghadapi Permesta. Pada tanggal 26 September 1959 selaku ketua sinode GMIM, Ds. Wenas mengirim surat kepada Presiden Soekarno. Bunyinya demikian:

“Bapak Presiden Jang Mulia!
“Pergolakan daerah Minahasa makin hari makin menghebat demikian penderitaan rakyat makin memuntjak; realiteit dihari-hari jang achir ini jaitulah: Pembunuhan manusia dan pembakaran rumah-rumah/negeri-negeri makin bertambah.”
“Ini mengertikan tanah kami Minahasa menghadapi keruntuhan dan kehantjurannja.”
“Bapak Jang Mulia! Terhadap realiteit ini kamu tunduk; kami melihatnja dan memahaminja sebagai hukum Tuhan Allah jang mahakudus atas dosa dan kesalahan kami baik selaku rakjat baik selaku geredja di Minahasa.”

Setahun sebelumnya, yaitu Maret 1958  Sidang Sinode GMIM mengeluarkan seruan yang ditandatangani oleh Ds. Wenas selaku ketua sinode menyikapi situasi mencekam di Tanah Minahasa akibat pergolakan tersebut. Tentara pusat membom Kota Manado dan beberapa tempat lainnya, termasuk Rumah Sakit Gunung Maria. Seruan tersebut antara lain berbunyi:

“Tinggalkan an hentikanlah djalan kekerasan, melalui pemboman, perang saudara antara kita dengan kita. Hentikanlah pemuntahan peluru dan granat pada Kota Manado atau kota-kota lain jang telah mengakibatkan tewasnya orang2 jang tiada bersalah.”
Pada poin yang lain seruan itu disebutkan:
“Apabila seruan ini tidak mendapat perhatian dari Pemerintah kami berseru kepada saudara2 kita orang Kristen jang duduk pada Badan Pemerintah untuk mengundurkan diri, selaku protes.”

Ds. Wenas adalah manusia biasa. Namun, dalam hal ini dia telah menunjukkan teladan sebagai ‘pelayan’ atau pemimpin gereja. Ds. Wenas tidak gemar dan haus jabatan/kekuasaan politis. Sebagai ketua sinode, ia memang sedang berada pada sebuah jabatan struktural. Namun, jabatan itu telah diletakkannya pada kepentingan banyak orang, ketimbang pada kepentigan dirinya sendiri. Saya kira, inilah arti dan makna spiritualitas ‘tona’as’, yaitu seorang yang memiiki kecerdasan , kebijaksanaan dan komitmen kehidupan yang lestari. Sekaligus sikapnya ini mencerminkan nilai-nilai atau spiritualitas kenabian.
Sikap-sikap yang tidak dimiliki oleh kalangan pemimpin gereja kita dewasa ini.
(kutipan surat diambil dari “Ds. A.Z.Wenas (1897-1967) Pelajan Geredja di Minahasa, Bulletin Dewan Gerejagereja Sulutteng, 1968”).(*/ts)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Daerah

Pohon Kehidupan

Oleh: Friko Poli

KOH Samui adalah pulau terbesar kedua yang dimiliki negara Thailand dengan luas lebih dari 228 KM persegi. Koh Samui merupakan salah satu tempat wisata populer di Thailand, selain Bangkok dan Phuket. Mereka meraup 1,5 juta turis setiap tahunnya. Lalu apa yg menarik dengan Koh Samui?

Sumberdaya alamnya yg menonjol adalah pantai dan kelapa. Tak heran, begitu turis menapakkan kakinya di Koh Samui, turis langsung disambut dengan air kelapa muda sebagai minuman selamat datang (welcome drink). Juice kelapa, ice cream kelapa dan berbagai drink produk dari kelapa, tersedia.

Bagi warga Koh Samui, kelapa bukan lagi sekadar tanaman perkebunan. Namun merupakan bagian dari budaya masyarakat. Bagi mereka kelapa adalah “pohon kehidupan”.

Semua orang, mulai dari tukang masak hingga tukang kayu dan apapun profesinya, setiap hari tidak lepas dari yang namanya kelapa.

Konsumsi minuman, susu menyegarkan, makanan, pengasapan daging, kue, minyak, dan berbagai furniture, serta souvenir memakai kelapa. Bahkan untuk tradisi kematian (kremasi mayat), mereka menggunakan air kelapa untuk mencuci muka jenasah.

Berbagai masakan Thailand bumbunya banyak menggunakan produk kelapa, dari soal minyak goreng dan penyedap lainnya. Selain lezat, makanan tradisional Thailand kini banyak dicari karena dinilai menyehatkan. Itu karena penggunaan minyak kelapa.

Festival Coconut (festival dari produk kelapa) rutin digelar. Salah satu yang terkenal Koh Samui Coco Fest. Iven itu bukan hanya menarik turis, namun jadi ajang pertemuan warga yang membawa produk unggulannya, baik berupa kue, makanan, souvenir dan lainnya. Dan semua itu berasal dari produk bahan baku kelapa.

Festival menjadi ajang menampilkan kreativitas warga dari olahan kelapa. Mereka saling bertukar informasi dan mengais untung bersama dari manfaat kelapa, dari ujung nyiur sampai akar.

Sehingga ketika di negara lain seperti Indonesia, India dan Filipina berteriak karena harga kopra anjlok, Koh Samui dan Thailand pada umumnya, tetap tenang-tenang saja. Kelapa tetap memberi mereka kehidupan, karena kelapa sudah menjadi bagian dari budaya dan kehidupan masyarakatnya….

Jauh dari Koh Samui, ada sebuah daerah yang dijuluki “Nyiur Melambai” (Sulawesi Utara). Bandaranya Sam Ratulangi. Siapa saja yang sudh menginjak kaki di bandara ini, dipastikan akan melihat nyiur melambai (pohon kelapa).

Dari balik jendela pesawat saja, penumpang langsung disambut nyiur melambai ketika pilot menyatakan “prepare for landing (@Bandara Sam Ratulangi).

Tapi bisa dipastikan, tidak semua orang yang telah menginjakkan kaki di Bumi Nyiur Melambai, juga telah menikmati air kelapa muda, kue kelapa (klapertart Manado) dan penganan khas lainnya dari kelapa, sampai mereka take off meninggalkan Bumi Nyiur Melambai ini. Termasuk kalangan turis Cina yang lagi booming ke Sulut. Itu kareba pariwisata kita belum terintegrasi dengan produk dan komoditi unggulan kita seperti Thailand.(fp)

Continue Reading

Bisnis

“Ketika Gebrakan Pak Olly Mencengangkan Jakarta”

CATATAN: Dino Gobel

KEMAJUAN pariwisata Sulut memang fenomenal. Disebut demikian, karena dari sisi jumlah tingkat kunjungan turis asing dan domestik, sejak Juli 2016 sd hari ini mencatat angka luarbiasa kenaiknya dibandingkan dengan periode2 sebelumnya. Di 2016, antara Juli-Desember saja, kunjungan wisatawan asing mencatat angka 47 ribu orang. Nusantara, 1.4 juta orang. Sedangkan di 2017 dari Januari sd pekan kedua September, wisatawan asing sudah mencapai 61 ribu sekian orang. Pada periode tiga tahun sebelumnya, turis asing ke Sulut per tahun hanya berada di kisaran 20-25 ribu orang per tahun.

Dan dari sisi spending money dan lama tinggal, turis asing di Sulut menghabiskan duit sekitar Rp10 juta ad 25 juta per orang dengan masa tinggal 5 hari sd 2 minggu. Meski disadari kemajuan kunjungan wisatawan belum sepadan dengan kondisi real di destinasi yg berada di kabupaten kota di Sulut. Dimana, sisi infrastruktur jalan hingga fasilitas umum dan atraksi budaya serta penunjang lainnya masihlah kurang. Namun begitu, kemajuan ini harus bisa ditangkap dan fokus digarap pemerintah di Sulut baik Pemprov maupun Pemkab dan Pemkot serta stakeholder pariwisata bersama masyarakat tentunya yg harus ikut merasakan dampaknya.

Saya pribadi merasa terkesan ketika diundang ikut menghadiri dan memberikan sumbang saran dalam acara Rembuk Nasional Membahas Pariwisata Sulut yg digelar di Auditorium Kampus Unsrat Manado, Senin (25/9) kemarin. Acara itu mengangkat tema Pengelolaan Pariwisata Unggul Nusantara. Saya terkesan karena acara saat itu, mampu menangkap kondisi obyektif fenomena kemajuan pariwisata Sulut yg saya beber di atas. Dan lewat forum itu, kondisi tersebut lebih difokuskan agar booming pariwisata di Sulut tak hanya jadi kembang semusim semata karena infrastruktur dan pembenahan sarana di destinasi tetap diacuhkan dan masyarakat tak merasa manfaatnya.

Luarbiasa memang acara tersebut. Berbagai masukan dalam dialog antara narasumber yg sangat kredibel pada bidangnya dengan peserta, yg datang dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi. Dan sebagaimana aroma tema acaranya, rembuk, berbagai masukan kritis dan inovatif pun ramai dilontarkan sejumlah peserta saat itu. Saya mencatat lima penanya diantaranya, seperti Prof DR Janny Kussen, seorang mahasiswa bernama Syaiful, Meyer Tanod dari sebuah lembaga adat, Merry Karouwan Ketua ASITA Sulut, DR Ferrol Warouw dari Unima dan Johny Lieke Ketua PHRI Sulut. Catatan kritis dan masukan keenam peserta baik itu menyangkut strategi pengembangan maritim tourism, strategi penamaan destinasi dan digitalisasi promosi, memotivasi peran serta masyarakat dan pemaknaan budaya dalam pariwisata yg masih lemah, hingga kurangnya pelatihan, merupakan masukan berharga yg harus langsung difollow up Dinas Pariwisata Sulut dan SKPD/OPD terkait lainnya dalam mensuport.kemajuan pariwisata berbasis kerakyatan.

Hal yg tak kalah mengesankan lainnya yang terlontar dari forum itu adalah saat Donny Oskaria selaku Tim Ahli Bidang Ekonomi Presiden RI dan Samsriyono selaku Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Teknologi dan Digitalisasi, yang menjadi narasumber dalam forum rembuk itu, secara spontan menyatakan salut atas Kerja Keras OD-SK dan Masyarakat Sulut Memajukan sekaligus Menjadikan Pariwisata sbg Prime Mover Entaskan Persoalan Kemiskinan di Sulut. Saya akui, mendengarkan aneka pujian tentang kemajuan pariwisata Sulut saat ini, lepas dari masih banyak kekurangan yg ada, sudah sering sy dengar dari berbagai pihak. Tapi, kalau itu kemudian dilontarkan tokoh2 nasional Jakarta seperti kedua narasumber kredibel ini?
Wow. Itu merupakan kebanggaan bagi kita di Sulut.

Siapa tak kenal Donny Oskara? Selain sebagai Staf Ahli Ekonomi Presiden Jokowi, eksekutif muda yg selalu berpenampilan necis ini juga komisaris di berbagai perusahan papan atas nasional, termasuk di TRANS Corp.
Dan dia dikenal sbg salah satu motor transformer ekonomi kreatif nasional.

Sedangkan Samsriyono? wah. sosok ini melambung namanya sbg man behind the gun di balik strategi marketing jitu Menteri Pariwisata RI Pak AY.  Terakhir, program tekno dan digital Bang Sam, sapaan akrabnya ikut menghantarkan video Kemenpar RI memenangkan penghargaan tertinggi Badan Pariwisata Dunia atau UNWTO di Chengdu Cina baru2 ini.

So, masih tentang apresiasi keduanya tentang gebrakan pariwisata Sulut yg dimotori OD.SK.
(Juga tampil bersama mereka, dua narasumber lainnya, termasuk DR John Tasirin selaku Staf Ahli Gubernur Sulut).
Sy dibuat tercengang ketika Staf Khusus Menpar RI, Samsriyono menanggapi materi Gubernur Sulut Bpk Olly Dondokambey yg pada acara itu menjadi keynote speaker.  “Wah, saya dan tim Pak Menteri baru merancang strategi bangun pariwisata, eh di Manado Pak Gubernur sudah duluan mengerjakan,” ujar pakar tekno dan digital ini spontan dan rendah hati. Firdaus Ali selaku Ketua Panitia Rembuk Nasional pun mengakui, mereka sangat menantikan pemaparan Gubernur Sulut, karena Firdaus Ali mengakui pihaknya sangat ingin belajar strategi yg telah dilakukan Sulut dibidang pariwisata hingga bisa menyalip daerah potensi pariwisata nasional lainnya. Ironisnya, pada 2016 lalu, Menpar RI tak memasukkan Sulut dalam 10 destinasi unggulan nasional.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey selaku keynote speaker dalam acara itu, harus saya akui, memang tampil memukau. Kehadiran Pak Olly bahkan sangat ditunggu tampil di forum itu.  Buktinya, acara sempat molor dua jam dari jadwal demi menanti kehadiran Gubernur Olly yg lagi menghadiri acara lainnya pagi kemarin.

Saya mencatat, Gubernur Olly sendiri tampil meyakinkan di forum yg ikut dihadiri banyak ilmuwan Unsrat dan beberapa Bupati dari luar Sulut tersebut. Disebut demikian, karena materi yang disampaikan Gubernur Olly berupa strategi nyata yg telah dilakukannya dalam memajukan pariwisata. Misalnya, saat Gubernur Olly mengatakan, alasan utama nya mengapa harus memajukan pariwisata?

“Ketika saya dilantik sbg Gubernur, saya melihat kondisi APBD Sulut masih memiliki keterbatasan dalam mempercepat penyelesaian sejumlah persoalan memajukan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.” kata Gubernur.Karena itu, Gubernur Olly, bersama Wagub Steven Kandouw, memutuskan pariwisata sebagai sektor yg harus digenjot dan menjadi leader. “Konektivitas udara dengan membuka penerbangan langsung termasuk ke cina salah satu strategi memajukan pariwisata,” tegas Gubernur.

Meski diakui Pak Olly, sempat mengalami tantangan terkait regulasi, tapi pihaknya berusaha melakukan lobi dan meyakinkan pemerintah pusat. Hasilnya? pariwisata pun booming. “Bandara, visa on arrival, imigrasi dan beacukai pun secara bersama kami benahi agar dilancarkan dalam pengurusan turis masuk di bandara,” kisah Gubernur. “Selain itu tentunya destinasi di daerah2 diperbaiki infrastruktur dan perbanyak atraksi festival,” tegas Gubernur.

Dalam konteks inilah, Staf Khusus Menteri Pariwisata secara spontan berujar tentang pidato Gubernur saat itu.
“Wah, kita di Jakarta baru mau mensosialisasikan strategi membangun pariwisata. eh Pak Olly sudah lebih dulu mengerjakan,” ujarnya, disambut aplaus meriah peserta rembuk nasional saat itu. Firdaus Ali selaku Ketua Panitia Rembuk Nasional menjelaskan, acara rembuk di sulut akan menjadi acuan untuk Rembuk Nasional bersama Presiden Jokowi di Jakarta pada Oktober nanti.

Anyway. Rembuk Nasional tentang Pariwisata Unggul Nasional di Sulut yg digelar di Unsrat Manado sudah berakhir. Apresiasi hebat bagi Rektor Unsrat Prof.Ellen Kumaat dan tim.
Thanks pemerintah pusat sdh percayakan Sulut sebagai lokasi penyelenggaraan.Kualitas acara nya sangat berharga bagi kemajuan Sulut khususnya, terutama dalam memperkaya ide untuk kemudian akan dibuatkan program nyata, terhadap kondisi destinasi yg masih sangat kurang, oleh Pemprov dan stakeholder.

Dengan begitu, kita optimis pariwisata Sulut kedepan, bisa lebih baik lagi, Apalagi spirit dan komitmen Gubernur Olly dan Wagub Steven sangat kuat memajukan daerah ini khususnya dari bidang pariwisata. “Pariwisata Sulut Hebat berbasis kerakyatan, adalah sebuah keniscayaan dengan komitmen bersama masyarakat dan sinerjitas kolaboratif para bupati dan walikota se Sulut,” kata Wagub Steven Kandouw dalam berbagai acara kepariwisataan daerah ini. Maju pariwisata Sulut. Torang maju, saling bergandengan, masyarakat, tokoh agama, pengusaha, LSM, Wartawan dan Pemerintah.
Torang rame2benahi yg masih kurang dgn infrastruktur yg ada.
Kurangi jo sikap pesimis dan mendramatisir kekurangan yg ada. Sebaliknya, satukan ide cerdas, wujudkan inovasi hebat tuk perbaiki dan perkaya infrastruktur dan kekurangan yg ada.

Torang yakin. Tuhan Maha Besar akan memberkati
tekat bersama kita semua mewujudkan
Sulut Hebat,
Rakyat Sulut Hebat!

#ODSK
#SulutHebat

Continue Reading
Advertisement

Trending

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: