Connect with us

Politik

Benny Rhamdani Beber Alasannya Tinggalkan DPD Maju DPR RI

Benny Rhamdani (tengah) ketika menjadi keynote speaker dalam diskusi.

POLITISI Hanura yang kini duduk sebagai Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara, Benny Rhamdani (Brani) membeberkan alasannya maju sebagai calon anggota DPR RI dan tidak lagi bertarung di ranah DPD RI. Padahal jika parameternya adalah gaji, DPD RI masih lebih “nyaman” karena tidak perlu memikirkan setoran untuk partai.

Brani menegaskan, faktor utama keinginannya berkiprah di legislatif, karena perjuangan politik untuk mewujudkan ideologis dan aspirasi rakyat serta daerah, kekuatannya ada di DPR dan bukan di DPD. Menurutnya, peranan DPD RI saat ini sesuai UU nomor 23, hanya dalam menentukan pemekaran daerah saja.

Suasana diskusi yang berlangsung menarik.

“Oleh sebab itu, saya termasuk orang di DPD yang setuju DPD RI dibubarkan saja, jika tidak ada penguatan politik kelembagaan. Negara hanya memboroskan saja anggaran gaji terhadap senator yang saat ini berjumlah 132 anggota,” tukas Brani saat menjadi keynote speaker dalam Forum Group Diskusi yang digelar di sebuah restoran di kompleks Wanea Plaza, Minggu (28/10/2018).

Sementara terkait kansnya bersaing memperebutkan 1 dari 6 kursi DPR RI untuk dapil Sulut, Brani mengaku memang harus berjuang keras, mengingat partai lain seperti PDIP, Partai Demokrat dan Nasdem cukup hegemoni kekuatannya di Sulut.

Dikatakannya, jika ingin lebih aman, sebenarnya dia bisa saja maju sebagai caleg DPR RI dari dapil Jawa Timur yang memiliki kuota 70-an kursi atau Jawa Barat yang mempunyai 96 kursi. “Saya sebagai Ketua DPP (Hanura) Bidang organisasi. Semua caleg partai yang mau mencalonkan diri ke tingkat dua, provinsi dan DPR RI, sebelum diberi rekomendasi Ketua Umum dan Sekjen Hanura, harus lewat saya kajiannya. Saya tanda tangan, Ketum dan Sekjen tinggal menyetujuinya. Artinya saya bisa mencalonkan diri dari Jabar atau Jatim yang memiliki potensi kans lebih besar,” katanya.

“Lalu kenapa saya harus bertarung di Sulut? Dan berhadapan dengan kekuasaan yang hegemoni seperti PDIP yang mematok 3 kursi, kemudian ada Demokrat dengan nama besar Pak Mangindaan, serta kekuatan Nasdem yang saat ini menguasai 6 wilayah pemerintahan dimana bupati dan walikotanya di tangan Nasdem?”

Hal ini diakuinya berat, apapun rumusnya. Apalagi dalam sejarah, Hanura tidak pernah mendapatkan 1 kursi pun. Kenapa saya pilih dapil Sulut dengan segala resiko tadi? “Karena bagi saya di atas politik ada moral. Di bawah moral dan politik ada nilai-nilai dan keyakinan agama. Artinya kalau saya pindah ke Jabar atau Jatim, maka saya mengkhianati rakyat Sulut yang telah memberi kepercayaan kepada saya 3 periode di DPRD provinsi dan 1 periode di DPD RI. Itulah sebabnya saya memilih untuk bertarung di kampung sendiri. Hal ini prinsip bagi saya. Saya tidak mau dikatai karena rasa susah (di Sulut), kemudian pindah dapil,” tegas politisi nasionalis yang vokal ini.(ts/*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Copyright © 2017 PT. Tren Sulut Media Cemerlang l By. MIT

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: