Connect with us

Manado

RSUP Kandou Menghadapi Tantangan Revolusi Industri “Generasi Keempat”

Wawancara Trensulut Bersama Dirut Dr Jimmy Panelewen, Sp.B-KBD

Dirut Dr Jimmy Panelewen, Sp.B-KBD saat memberikan wejangan bagi jajaran RSUP RD Kandou Manado.

RUMAH Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof RD Kandou Manado kini berada dalam jajaran rumah sakit dengan tingkat pelayanan terbaik di Indonesia. Akreditasi JCI (Joint Commission International) 2018 merupakan bukti sahih, bahwa rumah sakit kebanggaan warga Sulawesi Utara ini sudah setaraf pelayanan standar internasional. Sebagai catatan, dari ribuan rumah sakit pemerintah dan swasta di Indonesia, terdaftar baru 27 rumah sakit se-Indonesia yang lulus terakreditasi JCI.

Gelar pelayanan “high level hospital” ini tentunya akan menjadi tantangan tersendiri bagi Dr Jimmy Panelewen, Sp.B-KBD yang baru dilantik sebagai Direktur Utama RSUP Kandou tanggal 16 Oktober 2018 lalu. Panelewen sebelumnya adalah Direktur SDM dan Pendidikan RSUP Kandou. Dia adalah orang yang ikut membawa dan tahu betul bagaimana perjuangan RSUP Kandou hingga bisa berhasil seperti sekarang ini.

Menariknya, rumah sakit besar dan ternama lainnya di Indonesia, seperti RSUP Dr Sutomo dan Adam Malik Medan malah gagal meraih JCI. Lalu apa rahasia sukses RSUP Kandou? “Saya lihat salah satu kekuatan utama kita adalah team work. Torang masih baku-baku dengar. Soal adanya adu argumen, itu dinamika namun semua tetap mengedepankan tujuan yang sama,” kata Panelewen ketika diwawancarai khusus www.trensulut.com di ruang kerjanya, Selasa (24/10/2018).

Namun begitu, diakui Panelewen, tantangan terbesar bagi RSUP Kandou adalah bagaimana mempertahankan akreditas level internasional yang sudah diraih. Pasalnya, setiap 3 tahun JCI akan kembali mengevaluasi apakah standar pelayanan dipertahankan atau tidak. Jika dalam evaluasi performanya menurun, maka “gelar” akreditas itu bisa dicopot. “Dan untuk akreditas kedua, JCI tidak ada lagi excuse terhadap item-item penilaian karena RSUP Kandou dianggap sudah tahu, berbeda halnya dengan yang baru mengikuti evaluasi JCI pertama kalinya,” kata Panelewen seraya menambahkan, mempertahankan akan jauh lebih berat dibandingkan baru mau meraihnya.

Oleh sebab itu, sebagai Nakhoda RSUP Kandou, Panelewen terus mengingatkan jajarannya untuk tetap menjaga spirit dan bekerja keras dalam menjaga dan meningkatkan level pelayanan RSUP Kandou yang sudah berada di jajaran pelayanan “high class hospital”. Apalagi kini, pihaknya dituntut dengan target
Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). “Ini tantangan besar, tapi dengan team work yang ada serta kerja keras kita bersama, saya optimis target ini bisa kita capai,” tandas dokter spesialis bedah umum dan digestif ini.

Di satu sisi, sebagaimana fenomena yang sedang terjadi secara nasional, RSUP Kandou harus mampu mengatasi persoalan manajemen terutama menyangkut cash in/flow terkait tunggakan BPJS terhadap RSUP Kandou yang sudah mencapai Rp80-an Miliar. “Harus diakui, hal ini juga mempengaruhi kita (RSUP Kandou), namun kita tetap akan mencari kiat dengan melakukan approach ke BPJS, dan lobi dengan pemasok (obat dan alat medis lainnya, red), karena kita tahun bersama bagaimana kondisi BPJS saat ini,” ungkapnya.

Panelewen mengatakan, pasien RSUP Kandou hingga saat ini memang sangat dinominasi pasien BPJS. Prosentasinya mencapai 90 sampai 95 persen. Oleh sebab itu, agar tidak terlalu ketergantungan terhadap BPJS, pihaknya akan berupaya memanfaatkan pasien di luar BPJS. “Di Jakarta mereka relatif lebih aman, karena pasien banyak menggunakan asuransi di luar BPJS. Kalau kita bisa manfaatkan peluang sekitar 10 persen pasien di luar BPJS, sudah bagus itu. Sebab itu saya minta Dirkeu harus banyak kerjasama dengan asuransi pribadi dan institusi yang punya kepentingan, misalnya bank. Seiring dengan itu, kita juga harus membenahi dalam pelayanan dan kemitraan tersebut agar lebih bagus,” katanya agar rumah sakit tidak terlalu bergantung cash in dari BPJS, terutama dalam mengatasi pembayaran obat bagi pelayanan pasien.

Pada bagian lain, Panelewen mengatakan pejabat di jajaran RSUP Kandou juga perlu mindset berpikir sebagai seorang pemimpin dan tidak terjebak pada mindset berpikir teknis, tapi pada kebijakan strategis. Menurutnya, untuk hal-hal tertentu perlu berpola pikir dan tindak laku fleksibilitas terhadap aturan. Namun juga perlu strict (tegas) pada hal-hal yang prinsip.

Terkait responsif terhadap komplein pasien, RSUP Kandou sebagai badan layanan umum yang mengedepankan pelayanan, pihaknya akan menciptakan tim khusus untuk hal ini. Jika ada kesalahpahaman antar pasien dan dokter atau perawat, kata Panelewen, nantinya ada tim yang akan menanganinya untuk mendapatkan solusi. Dengan adanya tim ini, paramedis tidak berbenturan langsung dengan pasien, dan mereka bisa lebih konsentrasi pada pelayanan terhadap pasien lainnya. “Tentunya tim ini akan diseleksi. Dan personilnya adalah orang yang mumpuni, terlebih sabar dan mempunyai kemampuan komunikasi psikologis yang baik.”

Menariknya, seiring perkembangan teknologi informatika, nantinya juga akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi peningkatan kualitas manajemen RSUP Kandou. Dan saat ini, kata Panelewen, pihaknya sedang menyusun sistem informatika manajemen rumah sakit yang berbasis data digital komputerisasi dan internet sebagaimana tren perkembangan revolusi industri 4.0 saat ini yang sudah mengglobal.
“Mudah-mudahan sistem informasi manajemen ini bisa selesai 2019 nanti,” harapnya.

Panelewen sendiri dalam bidding di hadapan penguji sebagai calon dirut lalu, ketika ditanyai arah perkembangan rumah sakit di masa depan, menyatakan bahwa industri generasi keempat (revolusi industri 4.0) akan memainkan peranan yang sangat penting seiring kemunculan super komputer dengan logaritma yang semakin kompleks, adanya robotik, serta perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak dengan bantuan artificial inteligent.

“Kita harus siap pada era itu nantinya akan mengancam sekitar 60 persen tenaga kerja manusia digantikan dengan sistem robotik dan komputerisasi digital berbasis big data.” Dan itu sudah terjadi di Indonesia, dimana sudah ada rumah sakit di Jakarta yang kini menggunakan surgery robotic atau operasi pembedahan terhadap pasien menggunakan robotik, tidak lagi dilakukan manusia.

Namun dia optimis, tenaga kesehatan akan tetap eksis seiring era “homodeus” nantinya, asalkan paramedis (dokter dan perawat) bukan hanya mengandalkan skill teknis ilmu kedokteran dan perawatan, melainkan tetap mengandalkan attitude serta psikologis komunikasi dengan pasien secara baik.

Di masa depan, katanya, informasi tentang penyakit, obat dan penanganannya bisa diperoleh pasien dari teknologi informatika yang semakin maju. Namun keberadaan paramedis, katanya, jika mampu memberikan perlindungan, rasa aman dan nyaman serta kepercayaan bagi pasien, maka eksistensi tenaga kerja kesehatan tidak akan tergerus seiring perkembangan revolusi industri “generasi keempat” yang sudah di depan mata. (ts/fp)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Copyright © 2017 PT. Tren Sulut Media Cemerlang l By. MIT

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: