Connect with us

Berita Utama

Liando: Partai Pengusung Harus Tanggungjawab

Published

on

Masih hangat pembicaraan terkait Anggota DPRD Manado Zakarias tatukude yang sempat menjadi pergunjingan halayak, karena tidur saat agenda lembaga DPRD yakni mendengarkan Pidato Kenegaraan yang digelar pada Jumat 16 Augustus kemarin.

Kejadian yang tidak patut dicontoh itu kali ini menimpa Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Manado Tetty Taramen yang kali ini berbeda posisinya dengan kasus anggota dewan. Kalau anggota dewan tidur dengan posisi kemiringan kepala, sedangakan kasat Pol PP tidur dengan posisi duduk.

Hal tersebut tentunya sangat bertolak belakang dengan Walikota Manado GS Vicky Lumentut dan Wakil Walikota Mor Dominus Bastiaan didampingi ketua DPRD Aaltje Dondokambey dan Wakil Ketua Noortje Van Bone yang saat itu sedang dalam posisi segar bugar dan fokus mengikuti khusuknya Pidato yang dibawakan Presiden RI Joko Widodo.

Hal itu mendapat tanggapan dari Pengamat Politik Ferry Daud Liando. Menurut Liando figur politisi yang punya tabiat (Tidur) seperti itu merupakan tanggungjawab dari partai pengusung pada pemilu lalu.

“Yang harus dimintakan tanggung jawabnya adalah parpol yg mengusung sebagai calon pada waktu pemilu lalu. Apakah yang bersangkutan melalui proses seleksi atau ada tindakan yang tidak prosedural sehingga beliua terdaftar sebagai calon. Jika parpol melakukan prosedur seleksi dengan benar maka tidak mungkin akan lahir figur politisi seperti ini,” pungkas Akademisi Unsrat itu Minggu (18/8).

Lanjut Liando bahwa, Kejadian di sejumlah daerah lain, munculnya tabiat politisi seperti ini disebakan pada saat seleksi, banyak parpol mengabaikan kapasitas dan moral dari calon sebagai dasar penetapan calon.

“Mudah-mudahan saja anggota DPRD yang tidur ini terpilih secara wajar pada saat pemilu lalu. Sebab banyak juga dugaan bahwa kebanyakan yg tepilih oleh karena sebagian menyuap masyarakat. Biasanya DPRD yang tepilih kerena memberikan imbalan, kinerjanya akan buruk sampai periode berakhir. Sebab mereka tepilih bukan dilihat karena reputasi dan kapasitas, tapi Karena suap,” tegasnya kembali.

Namun demikian kejadian itu kata Liando harus dijadikan pelajaran, khususnya dari sisi kemanusiaan. “Orang yg tidur pada saat sidang Masih bisa dimaklumi dari sisi kemanusiaan. Bisa saja karena faktor umur atau karena ada tanggungjawab yang tidak bisa ditinggalkan sebelumnya,” tutur Liando sembari menambahkan.

“Yang tidak bisa ditolerir adalah anggota DPRD yg terlalu banyak berjanji pada saat kampanye, namun tak ada satupun yg dibuktikan. Jika ada anggota DPRD berlaku seperti ini maka akan lebih parah ketimbang DPRD yg tertidur itu,” seru Liando.

Sebelumnya aktivis Pemerintahan kota Manado Terry Umboh mengungkapkan moment tersebut sangat penting guna kelancaran tugas dan fungsi legislatif dan eksekutif, termasuk SKPD. Maka dari itu menurut Umboh, hal itu akan menjadi dampak negatif dalam hal kinerja yang berkaitan dengan tupoksi anggota dewan.

“Saya kira tidak pantas. Apalagi masih terbilang baru dalam mengemban tugas sebagai wakil rakyat,” tegas Umboh sembari menambahkan, sikap tersebut dapat memberi dampak tidak baik bagi kemitraan antara eksekutif dan legislatif.

“Kalau dipilih hanya untuk tidur wahh gawat, mau dibawa kemana amanah rakyat, bisa menciderai kepemimpinan di lembaga DPRD itu sendiri. Kalau soal kasat Pol PP meski tak dipilih oleh rakyat tetap telah menyandang seorang pejabat, yang secara tidak langsung sudah mencoreng wibawa pemerintah kota,” tandas Umboh via selular.

Terpisah Ko Sun saat dikonfirmasi membantah kalau dirinya tidur, melainkan hanya rehat sejenak. “Tidak tidur. Hanya merenggangkan leher saja. Maklumlah karena sejak pagi bekerja,” celetuk Ko Sun. (rol)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2017 PT. Tren Sulut Media Cemerlang l By. MIT