Connect with us

Berita Utama

Jabat Dubes, SHS Bakal Tempati Kawasan Paling Elit di Manila

Rumah Jabatan Dubes Bertetangga dengan Manny Pacquiao

DR Sinyo Harry Sarundajang (SHS) secara resmi menggantikan Letjen Purn Johny Lumintang sebagai Duta Besar (Dubes) RI di Filipina, setelah dilantik Presiden Joko Widodo, Selasa (20/02/2018). Selain Filipina, SHS juga merangkap sebagai dubes untuk Kepulauan Marshal dan Palau.

Rumah Manny Paquiao yang berada di depan rumah jabatan Dubes RI di Manila.

Sebagai Dubes di Filipina, SHS dipastikan akan menempati rumah jabatan dan kantor yang mewah karena KBRI (Kedutaan Besar RI) di Manila disebut-sebut salah satu aset milik Indonesia yang istimewa.
Rumah jabatan yang akan ditempati SHS terdiri dari belasan kamar dan memiliki taman di tengah rumah.

SHS dilantik sebagai Dubes RI di Filipina oleh Presiden Jokowi.

Hal istimewa lainnya, KBRI yang beralamat di Jalan 185 Salcedo, Legaspi Village, Makati City, Metro Manila, 1229, Filipina–merupakan kawasan paling elit di ibukota negeri tersebut. Kawasan ini selain dihuni kantor-kantor kedubes dari seluruh dunia, juga merupakan kawasan pemukiman para konglomerat dan selebriti di Filipina.

Seperti halnya petinju terkenal yang juga senator Filipina, Manny Pacquiao, memiliki rumah mewah di kawasan Makati. Bahkan kediaman Pacman –sapaan Manny–tepat berada di depan rumah jabatan Dubes RI.
Seperti dilansir jurnal street, kawasan Makati (Forbes Park), berada di area seluas kurang lebih 260 ha. Beberapa nama pengusaha ternama Filipina antara lain Lucio and Susan, pemilik jaringan supermarket the Puregold Price Club dan Robbie Antonio, kolektor benda seni dan managing director Century Properties, lalu keluarga Zobel de Ayala, pengembang Forbes Park dan CBD Makati, tinggal di kawasan ini.

SHS diambil sumpah sebagai Dubes  dalam pelantikan oleh seorang rohaniwan kristen.

Forbes Park dibangun Ayala Corp di era 1940-an di daerah yang kini dikenal sebagai Makati. Sedari awal sudah dirancang sebagai kawasan untuk kaum elit, Forbes juga dilengkapi dengan Manila Polo Club and the Manila Golf and Country Club. Nama kawasan ini mengambil dari nama William Cameron Forbes, gubernur jenderal Manila berkebangsaan Amerika yang membawa olah raga polo ke Filipina.

Dubes SHS dan Ibu Deetje didampingi anak-anak, Fabian Sarundajang dan Vanda Sarundajang.

Saat pertama kali dikembangkan, Makati bisa dibilang berada di pinggiran. Sebab itu rumah-rumah di Forbes Park, berkonsep vila dan jarak antar rumah sangat jauh. Rumah-rumah lama di sini biasanya punya empat kamar, dilengkapi dengan ruang duduk dan ruang musik, serta dua dapur dan kolam renang.

Terbagi dua bagian, utara dan selatan, di antaranya terdapat San Antonio Plaza, pusat komunitas yang berisi antara lain supermarket, restoran dan warung kopi. Di sini juga terdapat Santuario de San Antonio, gereja dan ruang serbaguna yang sudah berusia 40 tahun.

Forbes Park saat ini dihuni sekitar 2.500 keluarga. Walaupun cukup banyak, tapi lingkungannya terasa sunyi, bahkan pada jam-jam sibuk sekalipun. Maklum, sebagai kawasan paling eksklusif seantero Manila, tidak bisa sembarang orang masuk ke sini, apalagi berlalu lalang.

Serupa dengan kota-kota lain, kawasan elit di Manila ini juga diincar para kaum berpunya Filipina. Salah satunya adalah petinju profesional Manny Pacquiao. Namun, konon kabarnya rumah yang berada di depan Kantor Kedubes RI itu, sudah dijual dengan harga 16 juta dolar AS (Rp216 miliar.

Belakangan harga di Forbes cukup melonjak. Maklum, kawasan paling eksklusif seantero Manila ini berada di antara dua pusat bisnis baru Manila, yaitu CBD Makati dan Bonifacio Global City (BGC). Jarak ke BGC sekitar 15 menit. Apalagi BGC kian tumbuh setelah berhasil menarik masuk salah satu raksasa teknologi Oracle dan akan jadi kantor pusat Bursa Efek Filipina. “Tidak ada kawasan lain di Manila dengan akses ke segala fasilitas kenyamanan hidup seperti ini,” kata Claro Cordero, head of research JLL Philippines.

Menurut catatan Lamudi, saat ini rata-rata rumah di Forbes Park seharga 8,4 juta dolar AS (Rp 113,5 miliar). Tarif sewa ke ekspatriat 9.000 dolar AS (Rp 121 juta) per bulan. Kebanyakan berupa kavling seluas 2.000-4.000 m2 dan Forbes Park Village Association punya aturan bahwa luas tapak bangunan tidak boleh lebih dari sepertiga luas kavling. Rata-rata luas bangunannya 550-1.400 m2, dengan desain rumah beragam. Karena bernilai tinggi, jarang pemilik yang menjual rumahnya. Mereka memilih untuk disewakan, dengan tarif serentang 5.000 -12.000 dolar AS (Rp67.5 – 162 juta) per bulan. Sekitar 35 persen rumah di Forbes Park bisa disewa.

“Di sini memang investasi yang sangat baik dan saya akan tinggal sampai tua di sini,” ucap Bo Garcia, pemilik dealer BMW di Manila, calon penghuni Forbes Park. Disebut “calon”, sebab Garcia masih menunggu persetujuan ijin pengembangan dari rumah yang dibangun di era 1970-an. Garcia membeli rumah di pasar seken seharga 8 juta dolar AS, satu setengah tahun lalu. Rumah itu akan diperluas, untuk punya enam kamar dan dilengkapi dengan home theater, ruang pijat, elevator, gym dan garasi yang bisa menampung 12 mobil. (ts/jst/sbr*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Trending

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: