Connect with us

Berita Utama

Menanti Ketajaman Pena Jamal Khashoggi

Jamal Khashoggi.

VERONICA Guerin dan Jamal Khashoggi adalah dua sosok yang hidup berlainan negara. Veronica warga Irlandia dan Jamal berasa dari Arab Saudi. Persamaannya, mereka berdua adalah jurnalis yang dibunuh dengan sadis karena mengungkap ketidakbenaran lewat tulisan.

Guerin mati diberondong peluru oleh bandar narkoba kakap. Namun lewat kematiannya, pemerintah Irlandia membekukan aset pengedaran narkoba dan angka kriminalitas pun turun hingga 20%. Sedangkan kematian Jamal yang juga diduga dibunuh secara sadis, kini mengancam kedudukan dan tahta di kerajaan Arab Saudi. Menarik menanti ketajaman pena Khashoggi, apakah mampu menumbangkan balik kejahatan para pembunuhnya, sekaligus membongkar kebobrokan oknum penguasa di dalamnya?

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, akan mengungkap secara terang-terangan bagaimana jurnalis Jamal Khashoggi tewas di kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul. Erdogan berjanji akan menjelaskan semua ‘rincian’ kematian Khashoggi dalam sebuah pidato besok.

“Saya akan membuat pernyataan tentang ini pada Selasa (23/10) dalam sebuah pertemuan. Karena kami mencari keadilan di sini, kami akan mengungkap semuanya secara terang-terangan,” kata Erdogan, dikutip dari Sky News, Senin (22/10/2018).

“Mengapa 15 warga Saudi datang ke negara kami? Mengapa 18 orang ditangkap? Semua ini perlu dijelaskan secara rinci. Saya akan menjelaskan semua ini dengan cara yang berbeda dalam pidato dengan kelompok saya,” tambahnya.

Komentar Erdogan didukung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang juga mengharapkan informasi mendetail tentang kematian Khashoggi. Trump juga mengatakan akan berbicara dengan Pangeran Muhammad bin Salman sesegera mungkin. Keduanya berbicara melalui telepon untuk mengklarifikasi bagaimana sebenarnya Khashoggi tewas.

Media pro-pemerintah Turki mengatakan bahwa 15 warga Saudi melakukan perjalanan ke Turki untuk membunuh Khashoggi pada 2 Oktober lalu. Namun demikian, Saudi membantah bahwa pihaknya ada kaitannya dengan pembunuhan Khashoggi.

Kini buntut kematian Jamal, gelar Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) sebagai Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi dikabarkan terancam. Hal ini menyusul mencuatnya dugaan keterlibatannya dalam skandal kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Turki.

Pada 18 Oktober, surat kabar Prancis Le Figaro, dengan mengutip sumber diplomatik di Paris, melaporkan bahwa Dewan Suksesi Kerajaan Arab Saudi (Allegiance Council) “telah mengadakan pertemuan rahasia untuk membahas kasus Jamal Khashoggi yang tewas di Konsulat Saudi di Istanbul atas perintah MBS,” demikian seperti dikutip dari media Iran Press TV, Senin (22/10).

“Allegiance Council, yang menunjuK Pangeran bin Salman sebagai putra mahkota baru tahun lalu dengan melanggar aturan-aturan umum suksesi, sekarang berencana untuk menunjuk Pangeran Khalid bin Salman, Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat, sebagai deputi putra mahkota,” lanjut Press TV mengutip Le Figaro.

Khalid bin Salman sendiri merupakan adik kandung Pangeran MBS. Sebuah sumber Arab Saudi menjelaskan kepada Le Figaro, jika Khalid bin Salman (KBS) memang benar akan ditunjuk, itu berarti bahwa MBS akan meninggalkan posisinya di tahun-tahun mendatang. Dengan cara ini, kekuatan tetap ada di klan Salman, tambah laporan itu.

Menurut laporan itu, KBS, yang populer baik di dalam maupun di luar negeri, secara bertahap akan mengambil alih saudaranya dan menggantikannya pada hari-hari kemudian. Khalid bin Salman (28), terbang ke Riyadh pekan lalu, The New York Times melaporkan Senin 16 Oktober 2018. Surat kabar itu menambahkan bahwa KBS tidak akan kembali ke AS sebagai utusan Saudi. Belum jelas siapa yang akan menggantikan KBS untuk posisi Dubes Saudi untuk AS yang ditinggalkannya.

Tapi, laporan dari CBS News menyatakan hal sebaliknya. Media itu melaporkan, “Kementerian Luar Negeri AS memahami bahwa KBS akan kembali mengisi posisinya sebagai Dubes Saudi untuk AS,” demikian seperti dikutip dari Newsweek.

Le Figaro mencatat bahwa MBS merupakan musuh besar di kalangan Allegiance Council, dengan melanggar kesepakatan di antara pangeran kelas satu dari berbagai klan keluarga kerajaan, karena instan menerima kekuasaan mengingat statusnya sebagai putra Raja Salman. Kendati demikian, berbagai kabar itu, termasuk yang seputar Jamal Khashoggi, belum terkonfirmasi dan diumumkan secara resmi oleh pejabat berwenang. Pihak Arab Saudi sendiri membantah keterlibatan Mohammed bin Salman dalam dugaan pembunuhan Jamal Khashoggi. Menarik ditunggu kasus Jamal yang disebut-sebut dimutilasi oleh agen khusus yang terdiri dari beberapa dokter patologi.

Jamal adalah jurnalis yang kerap mengkritik kerajaan Arab Saudi. Dia kemudian tinggil di AS karena mendapat ancaman. Namun ketika hendak menikah dan mengurus dokumen di kedutaan Arab Saudi di Turki, Jamal tidak pernah pulang lagi ke AS. Jamal diduga dieksekusi oleh tim khusus. (ts/sbr)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Copyright © 2017 PT. Tren Sulut Media Cemerlang l By. MIT

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: